Jangan Perlakukan Orang Lain Seperti Ini

Sejak kecil, kita sering mendengar pesan ini: perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Kalau mau dihormati, hormatilah dulu. Kalau tak mau disakiti, jangan menyakiti. Kalau ingin diperlakukan baik… ya jelas, perlakukan orang lain dengan baik juga. 

Ga ada yang salah dari pesan itu, kalau bicara soal“nilai”.

Tetapi, kalau bicara soal “cara”, pesan itu ga terlalu pas. Di keseharian, cara yang kita anggap baik, belum tentu baik menurut orang lain. Standar kita dalam bertingkah laku belum tentu sesuai dengan standar orang lain. Setiap individu punya kesukaan, kepribadian, latar belakang, dan sensitivitas masing-masing. Yang kemungkinan besar berbeda satu sama lain.  

Contohnya, kita orangnya lebih suka ditegur secara to the point, tanpa basa-basi atau sindiran. Lalu kita memperlakukan orang lain dengan cara yang sama ketika mereka salah. Padahal orang tersebut mungkin lebih nyaman ditegur dengan halus atau melalui pendekatan tidak langsung. Akibatnya, orang itu menganggap kita kasar, kurang sopan santun, minim tatakrama. Akhirnya muncullah konflik yang tidak perlu. Bisa jadi berujung pada putusnya tali pertemanan. 

Contoh lain, kita senang jika dalam rapat, pendapat atau usulan disampaikan dengan singkat, padat, dan jelas. Tapi ada teman yang saat menyampaikan pendapatnya, intronya begitu panjang, kalimatnya begitu mendayu-dayu. Mungkin kita tak sabaran menunggunya mengucap kata demi kata, lantas kita memotongnya dan memberinya arahan agar ia menyampaikan pendapat secara ringkas dan langsung ke pokok masalah. Kemungkinan besar ia akan tersinggung, lalu mingkem, dan tak ingin bersuara lagi.

Mungkin ada teman kita yang agak pendiam, jarang ngomong, dan agak tertutup. Berbeda dengan sifat kita yang hangat, cepat akrab, dan suka bercanda. Jika kita memperlakukan teman yang introvert tersebut sesuai dengan standar kita: banyak tanya ini itu, bisa jadi ia tak nyaman. Mungkin ia menganggap kita terlalu mencampuri urusan pribadinya, atau terlalu dalam masuk ke dalam wilayah privasinya. 

Dalam hal tolong menolong juga demikian. Ada orang yang senang jika ditolong tanpa diminta. Mereka menganggap itu bentuk perhatian. Tetapi ada pula orang yang merasa tidak enak jika ditolong tanpa mereka minta. Mereka mungkin merasa dianggap tidak mampu, atau merasa terlalu diurusi. Kita berniat baik, tapi mereka merasa ga nyaman. Ini bukan masalah benar atau salah, tapi standar cara yang tak sama.

Dari contoh diatas, jelas bahwa “cara” yang kita yakini tidak berlaku universal. Kita tidak boleh menjadikan cara yang kita sukai sebagai acuan untuk memperlakukan orang lain. Jadi dalam hal cara, pepatah yang pas adalah “perlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan, bukan sebagaimana cara kita ingin diperlakukan”.

Bagaimana agar kita dapat memperlakukan orang lain sesuai dengan keinginan mereka?

Pertama, amati. Perhatikan bagaimana orang berbicara, bagaimana mereka merespons, bagaimana mereka mengekspresikan rasa nyaman atau rasa tak nyaman. Dari cara mereka tertawa, dari kalimat yang mereka pilih, dari sikap tubuh mereka, seringkali kita mendapat petunjuk bagaimana mereka ingin diperlakukan.

Kedua, tanya. Tidak ada salahnya jika kita langsung bertanya tentang preferensi mereka. Pertanyaan seperti “kamu lebih suka aku jelasin panjang atau langsung intinya saja?”, atau “kamu lebih nyaman ditegur langsung atau dijelasin pelan-pelan?”, bisa menghindarkan kesalahpahaman.

Sebagai kesimpulan, pesan “perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan” tetap relevan pada level nilai. Tapi pada level praktek, pesan ini perlu disesuaikan. Kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan, bukan sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Posting Komentar untuk "Jangan Perlakukan Orang Lain Seperti Ini"

Artikel Terbaru