Kita ini Makhluk Surga
Ini bukan candaan. Ini serius. Kita manusia, sejatinya adalah makhluk surga. Hanya saja, karena leluhur kita dulu ada sedikit “slip”, kita akhirnya dibantarkan sebentar di dunia. Semacam penempatan sementara.
Salah satu ciri khas makhluk surga adalah: cukup membayangkan sesuatu, dan jreng, dalam sekejap hal itu langsung terwujud. Tanpa nunggu lama, tanpa cicilan, tanpa antrean.
Rupanya, jejak kemampuan ini masih ada dalam diri kita. Fitur keren ini masih tersisa.
Mungkin kita pernah mengalami hal ini. Kita membayangkan sesuatu, lalu beberapa waktu kemudian, jadi kenyataan. Tidak secepat di surga tentu saja, dan biasanya butuh usaha nyata. Tapi pola itu tetap kelihatan: membayangkan → terbit ilham → dorongan tindakan → muncul kebetulan-kebetulan → hasil.
Dari sinilah muncul konsep visualisasi. Ilmu yang belakangan banyak dipopulerkan oleh orang Barat. Ada buku The Law of Attraction karya William Walker Atkinson, yang membahas bagaimana pikiran bisa menarik realitas. Bahkan sebelum buku-buku modern begitu populer, konsep visualisasi sebenarnya sudah lama ada.
Kalau kita ingat-ingat, mungkin tanpa sengaja kita pernah membuktikan visualisasi itu. Misalnya dulu waktu kecil kita membayangkan punya mobil impian, atau rumah gaya minimalis, atau profesi mentereng. Lalu tahu-tahu, ketika dewasa, hal itu muncul dalam hidup kita. Bukan karena sihir, tapi karena pikiran kecil itu menuntun langkah kita sedikit demi sedikit sampai akhirnya kejadian.
Bayangkan kalau dulu saja, tanpa sengaja, hasilnya bisa nyata, bagaimana kalau kita melakukannya dengan sadar? Dengan sengaja? Dengan fokus? Bisa jadi dampaknya jauh lebih besar.
Tentu ada yang protes, “Ah itu mah cuma mengkhayal.” Betul, kalau berhenti di situ saja, ya itu namanya mengkhayal. Tapi setelah visualisasi biasanya muncul ilham kecil. Muncul kebetulan-kebetulan yang terasa random, tapi sebenarnya itu semacam “kode” atau sinyal yang diarahkan Tuhan agar kita bergerak ke arah yang tepat. Sayangnya, banyak dari kita yang mengabaikan sinyal-sinyal itu. Padahal, justru itu pintu awal realisasi.
Ada juga yang bilang, supaya visualisasi makin tokcer, diri kita harus dibersihkan dulu. Dari misalnya iri hati tipis-tipis ke tetangga, dari kebiasaan suudzon, atau dari ibadah yang masih setengah hati. Dalam kondisi hati yang jernih, pikiran kita jadi lebih fokus, dan sinyal ilham lebih gampang masuk. Ibarat radio tua, semestinya kita bersihkan semut-semutnya dulu biar frekuensi tidak sember.
Tentu saja, sebagian pembaca mungkin ada yang masih ragu. “Ah, masa iya cuma dibayangin terus jadi?” Tidak apa-apa. Wajar kalau ragu. Banyak hal baik dalam hidup kita memang dimulai dari keraguan.
Tapi saran saya, coba saja dulu. Nggak rugi kok. Visualisasikan sesuatu yang kita inginkan dengan tenang. Bayangkan detailnya. Rasakan. Lalu lanjutkan hidup seperti biasa, sambil peka terhadap ilham kecil yang muncul. Lihat beberapa waktu kemudian: apakah ada perubahan? Apakah ada tanda-tanda? Apakah ada kebetulan-kebetulan yang terasa seperti kebetulan tapi kok pas banget?
Dan kalau ternyata beneran kejadian, jangan lupa balik ke artikel ini. Tinggalkan komentar, biar pembaca lain ikut semangat. Siapa tahu, testimoni kita itu jadi secuil bukti bahwa “fitur surga” itu memang masih ada dan “work” dalam diri kita.

Sejatinya Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, semua itu sudah suratan takdir yang jauh sudah tertulis di lauh Mahfudz sebelum manusia itu di ciptakan dan di turunkan ke bumi.
BalasHapusSebagai Contoh Kecil Allah Berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 1 "Alif Lam Mim"
Artinya Setiap Perkara Hanya Allah Yang Tahu, Kapan,Dimana, Dan Waktu Yang Tepat.
Dan itu Berlaku Bukan hanya perkara jodoh, Maut, Hujan Turun, Air mengalir, Semut Berjalan, daun jatuh saja, Bahkan setiap Gerak setiap waktu Allah Selalu Memberi Kode, Hanya saja Kebanyakan Manusia Masih Terhijab Dunia Jadi Sulit Untuk Membaca Apa-apa yang tersirat, Mereka Hanya membaca Apa yang Tersurat (Al-Quran), Dan Kitab-kitab Allah Lainnya Seperti Injil, Zabur dan Taurat.
Selamat Mengaji 😊